Jika Kamu Lihat Orang Tua Mengasuh Dengan 8 Cara Salah Ini, Hentikan Mereka… Sekarang!
Sebelum hal-hal yang tidak diinginkan 'siapa pun' terjadi.
Cover image via imgur.comKulit kening seorang balita berumur 3 tahun asal Thailand terluka belah oleh kipas langi-langit saat bermain dengan Ayahnya
Oum, 3 tahun, tengah asyik bermain *lempar-ke-udara* oleh Ayahnya hingga salah satu lemparan berujung terlalu tinggi dan kipas langit-langit yang sedang berputar melukai kening balita malang itu.
Dengan kondisi kulit kening terbelah buka dan bercucuran darah, Oum langsung dilarikan ke rumah sakit oleh kedua orang tuanya untuk memperoleh penanganan. Menurut [laporan terakhir] (https://www.thesun.co.uk/news/1593905/toddlers-head-split-open-by-an-electric-ceiling-fan-after-the-girl-3-was-playfully-lifted-into-the-air-by-her-father/), Oum itu kini sudah berada di rumah dan dalam kondisi yang membaik. Namun demikian, besar kemungkinan balita malang itu akan memiliki bekas luka permanen di keningnya.
Gaya bermain melempar anak ke udara sudah menjadi salah satu kebiasaan buruk yang seringkali dilakukan banyak orang khususnya para orang tua
Gemas dan perasaan *geregetan* mungkin menjadi alasan utama sulitnya berhenti melakukan kebiasaan ini. Terlebih lagi, anak kecil biasanya terlihat senang dan tertawa diperlakukan demikian. Namun kasus Oum sudah sepatutnya membuat kita berpikir dua kali untuk kedepannya melakukan *gaya bermain* seperti ini kepada anak atau adik kecil kita.
Berikut adalah 8 kebiasaan lain yang harus diwaspadai orangtua karena dapat berakibat buruk bagi kesehatan anak
1. Mengunyah makanan terlebih dahulu agar lumat untuk kemudian diberikan kepada anak untuk mereka makan
*Ew.* Beragam alasan biasa kita dengar ketika orangtua melakukan kebiasaan yang satu ini. Salah satunya adalah niat mereka untuk membuat makanan menjadi lebih mudah dicerna oleh sang anak. Alasan lain yang mungkin akan sangat sulit ditangkap akal sehat adalah anggapan bahwa kebiasaan ini akan membuat anak menjadi lebih *nurut* pada orangtua.
**Kemungkinan terburuk:** praktik ini bisa berujung proses penularan penyakit terlebih lagi jika orangtua atau pengasuh yang melakukan ini sedang dalam keadaan sariawan atau kondisi tubuh yang tidak prima lainnya.
**Alternatif lain / solusi:** jika bayi masih terlampau muda atau memiliki kondisi yang hanya memungkinkannya memakan makanan yang lumat, lebih baik berikan mereka makanan dalam bentuk *puree*.
2. Meniup makanan saat memberi makan anak
Kembali lagi, tujuan orangtua sebenarnya hanya ingin memudahkan anak saat makan. Makanan yang terlalu panas pun memang tidak baik untuk permukaan lidah anak hingga saat makanan itu dicerna. Namun dengan begitu, orangtua tetap harus berpikir dua kali sebelum meniup makanan saat memberi makan anak.
**Kemungkinan terburuk:** kuman hingga sumber-sumber penyakit yang bersarang di rongga mulut orang dewasa bisa mencemari makanan yang hendak dimakan anak saat makanan tersebut didinginkan dengan ditiup-tiup.
**Alternatif lain / solusi:** perbaiki perhitungan waktu penyajian dan jadwal pemberian makan sehingga saat waktunya makan, hidangan yang akan diberikan sudah dalam keadaan tidak terlalu panas.
Image via ukhtiindonesia.com
3. Memaksa anak untuk makan atau biasa dikenal dengan istilah mencekoki
Kebiasaan ini biasa dilakukan saat anak mulai sulit untuk makan. Praktiknya pun beragam dari memaksa masuk sendok ke dalam mulut hingga dengan mencubit pelan bagian hidung anak agar mulut anak menjadi terbuka.
**Kemungkinan terburuk:** makanan masuk ke dalam saluran pernafasan anak dan menjadi tersedak. Hal ini akan berujung lebih buruk jika anak masih dalam umur yang terlampau muda.
**Alternatif lain / solusi:** banyak cara untuk mengakali situasi seperti ini antara lain menyajikan makanan dengan tampilan yang lebih menarik, memvariasikan menu makanan hingga dengan memberikannya camilan-camilan yang menyehatkan.
Image via brilio.net
4. Menyeduh susu formula dengan air dispenser
Ini merupakan pilihan praktis menyajikan susu formula tanpa harus memasak air terlebih dahulu.
**Kemungkinan terburuk:** bakteri yang terdapat dalam susu formula belum benar-benar mati karena pada umumnya air panas pada dispenser tidak lebih dari 700 celcius.
**Alternatif lain / solusi:** memasak air terlebih dahulu air yang hendak digunakan untuk menyeduh susu formula lalu diamkan selama kurang lebih 15 menit.
Bubuk susu formula masih mengandung bakteri yang harus dimusnahkan saat proses penyeduhan.
Image via wordpress/harblue
5. Memberi makan terlalu cepat
Lagi-lagi, alasan aneh seperti kepercayaan makan cepat bisa mempercepat proses pertumbuhan anak bisa didengar dengan mudahnya. Padahal anak atau adik kecil kita pada umumnya masih memiliki keterbatasan dalam mencerna makanan padat yang masuk.
**Kemungkinan terburuk:** resiko usus tersumbat dan pemicu anak mengalami obesitas di kemudian hari.
**Alternatif lain / solusi:** bersabar dan wujudkan durasi makan yang wajar serta berikan pendidikan dini tentang pentingnya mengunyah makanan dengan benar pada anak.
Image via obatanaksusahmakan.com
6. Membiarkan anak tidur di lantai
Sebagian anak-anak merasa lebih nyaman tidur di lantai ketimbang kasur. Hal ini biasanya terjadi lantaran anak kegerahan atau kamar tidur kurang nyaman.
**Kemungkinan terburuk:** penyakit yang berkaitan dengan udara karena anak bersentuhan langsung dengan lantai. Antara lain, batuk, pilek atau kedinginan. Hal ini akan menjadi lebih buruk kalau anak memiliki riwayat bronkitis atau alergi udara.
**Alternatif lain / solusi:** kalau memang tidur di lantai adalah satu-satunya cara agar anak mau beristirahat, lapisi lantai dengan karpet yang tebal dan pindahkan anak ke kamar tidur setelah tertidur pulas di lantai.
Image via papasemar.com
7. Membiarkan anak duduk dalam posisi W
Anak umumnya merasa ini posisi ternyaman saat mereka melakukan aktifitas mereka. Namun ternyata posisi duduk seperti ini dapat berakibat buruk bagi masa pertumbuhan mereka.
**Kemungkinan terburuk:** gangguan ortopedi atau dislokasi panggul (displasia) yang dapat berakibat buruk untuk masa pertumbuhan anak.
**Alternatif lain / solusi:** ajarkan alternatif duduk lainnya seperti bersila atau kaki *selonjor*.
Image via today.com
8. Membiarkan anak menangis dalam tidurnya
Salah satu alasan yang dapat ditemukan adalah pendidikan dini kepada anak mereka untuk menjadi mandiri. Banyak yang beranggapan meladeni anak usia bayi yang menangis saat waktu tidur akan membentuk pribadi yang manja. Benarkah?
**Kemungkinan terburuk:** hal ini disebutkan dapat menyebabkan beberapa [masalah] (http://female.kompas.com/read/2009/11/03/10382016/jangan.biarkan.anak.menangis.di.tengah.tidurnya) dalam hidupnya kelak, seperti ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), perilaku antisosial, dan IQ yang rendah.
**Alternatif lain / solusi:** bersabar menemani anak saat tidur, siap sedia memberikannya ketenangan hingga menciptakan pola pikir pada anak bahwa dirinya merasa terlindungi dan tidak sendirian.
Image via reference.com
Pantau terus [Facebook] (http://bit.ly/saysidfb) dan [Twitter] (http://bit.ly/saysidtwitter) SAYS Indonesia untuk update konten menarik dan bermanfaat lainnya!
Subscribe juga [disini] (http://bit.ly/saysidsubscribe) untuk email berisikan daftar konten terhangat langsung di Inbox kamu! 😉
Image via SAYS
