Kisah Harambe Si Gorila Yang Terpaksa Ditembak Mati Masih Mengundang Amarah Masyarakat

Bocah 3 tahun yang terjebak di area gorila tersebut saat ini mulai pulih dan sudah bisa berjalan.

Enlarge text
Cover ImageCover image via SAYS Indonesia
Logo

Hingga saat ini, keputusan menembak mati Gorila bernama Harambe oleh pihak Kebun Binatang Cincinnati di Ohio, Amerika Serikat, masih mengundang beragam reaksi dari masyarakat

Keputusan menembak mati Harambe dilatarbelakangi kekhawatiran akan keselamatan seorang anak laki-laki yang terjebak di kandang Gorila kebun binatang tersebut

Peristiwa ini terjadi pada Sabtu, 28 Mei lalu di Kebun Binatang Cincinnati di Ohio, Amerika Serikat. Nampak dalam video yang beredar, seorang anak yang kemudian diketahui berumur 3 tahun terjebak di kandang Gorila setelah beberapa saat kemudian Harambe muncul dan menghampiri. Sesaat setelahnya, Harambe menyeret pergi sang anak beberapa meter dari lokasi sebelumnya.

Image via mirror.co.uk

Terpampang ilustrasi lokasi kejadian yang dimuat di [Mirror.co.uk] (http://www.mirror.co.uk/news/world-news/astonishing-new-footage-shows-gorilla-8082168). Diketahui awalnya sang anak sempat merengek untuk masuk ke kandang Gorila tersebut. Seketika saat terlepas dari pengawasan, sang anak merangkak melewati penghalang kandang dan berujung terjebak di kandang itu.

Pihak kebun binatang merasa perlu untuk melakukan keputusan tersebut demi keselamatan sang anak yang terjebak dan dikhawatirkan terancam

**Mereka juga menjelaskan alasan mengapa keputusan untuk menembakkan obat penenang tidak dilakukan**. Seperti dikutip [Time.com] (http://time.com/4351886/cincinnati-zoo-gorilla-killed-tranquilized/), Thane Maynard, direktur eksekutif kebun binatang Cincinnati, menyampaikan bahwa menembak gorila tersebut dengan obat penenang pasti akan memberikan teror tersendiri bagi gorila dan membuatnya merasa semakin terancam. Efek obat pun akan membutuhkan waktu hingga 10 menit. Menunggu bukan hal yang bijak, ujarnya, melihat kondisi sang anak yang saat itu semakin mengkhawatirkan.

Thane Maynard, direktur eksekutif Kebun Binatang Cincinnati

Image via TIME

Sebagian masyarakat menganggap bahwa saat itu yang Harambe lakukan justru mencoba melindungi si anak dari keramaian pengunjung yang mungkin ia anggap sebagai 'ancaman' bagi si anak

Image via Mirror.co.uk

**Sebagian lainnya memahami keputusan berat yang diambil kebun binatang yang menurut mereka memiliki pilihan yang sangat terbatas.** Mengutip wawancara [CNN] (http://edition.cnn.com/2016/05/31/us/gorilla-shot-harambe/) dengan seorang saksi bernama Bruce Davis, sang anak saat itu sudah dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan lepas dari dugaan Gorila tersebut sebenarnya berniat melindungi.

Ibu dari si Anak mendapat kecaman dari sejumlah masyarakat dunia semenjak kasus ini masuk dalam pemberitaan internasional

Hampir 500.00 orang sudah menandatangani [petisi] (https://www.change.org/p/cincinnati-zoo-justice-for-harambe) online bertajuk *'Justice for Harambe'*yang meminta orang tua si anak untuk bertanggungjawab atas kelalaiannya yang mengakibatkan peristiwa ini terjadi hingga mengorbankan nyawa Harambe si Gorila.

Image via reuters

Menurut laporan [CNN] (http://edition.cnn.com/2016/05/31/us/gorilla-shot-harambe/), saat ini keluarga si anak terutama orangtua sedang diselidiki oleh pihak kepolisian.

Pakar parenting yang juga merupakan penulis buku Raising Your Spirited Child Mary Sheedy Kurcinka menghimbau masyarakat untuk tidak begitu saja menghakimi orangtua terutama Ibu si anak

Dalam penuturannya yang disampaikan oleh [Wall Street Journal] (http://well.blogs.nytimes.com/2016/05/31/who-is-to-blame-when-a-child-wanders-at-the-zoo/?_r=0) **Mary percaya bahwa orangtua si anak pasti sudah berusaha sekuat tenaga untuk menjaga dan tidak ingin hal seperti ini terjadi**. Terlepas dari pengawasan sangat mungkin terjadi apalagi terhadap anak yang tergolong sangat reaktif dan terpaku pada apa yang ingin dia lakukan.

Menanggapi kecaman yang bermunculan, Ibu dari sang anak menulis status di akun Facebook pribadinya berikut ini

Image via Facebook

Selain ucapan terima kasih serta pengakuan bahwa sebagai Ibu dia selalu berusaha menjaga anaknya seperti yang tertulis dalam status di atas, dia juga menambahkan bahwa keluarganya mulai memperoleh tawaran sumbangan berupa sejumlah uang. Dia menyatakan bahwa keluarganya berterima kasih namun tidak dapat menerima bantuan tersebut dan menyarankan mereka untuk mengalokasikan sumbangan tersebut kepada pihak kebun binatang atas nama Harambe si Gorila.

Seorang mantan penjaga kebun binatang mencoba menanggapi sikap kebanyakan masyarakat yang menurutnya cenderung saling menyalahkan

Melalui akun Facebooknya, [Amanda O'Donoughue] (https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1203379103029809&set=a.136952966339100.18704.100000731932790&type=3&theater) menyampaikan bahwa kekuatan Gorila kurang lebih setara dengan kekuatan 10 manusia. Dia sangat memaklumi kekhawatiran pihak kebun binatang bahwa keselamatan si anak sangat terancam saat itu.

Ujarnya, **daripada saling menyalahkan, mereka yang mengaku menyayangi Harambe lebih baik fokus dengan bagaimana menyelamatkan Gorila lainnya yang masih berkesempatan hidup di tengah jumlah mereka yang kian menipis.**

Apa pandanganmu?

Di Indonesia, kematian Yani si Gajah Sumatera di Kebun Binatang Bandung juga hingga saat ini masih meninggalkan luka

Read more trending stories on SAYS

You may be interested in: