Semua Yang Perlu Anda Ketahui Dibalik ‘Tagar’ #ShameOnYouEtihad

"Jadi, karena saya pengguna kursi roda, katanya nanti saya tak bisa mengevakuasi diri kalau ada kecelakaan."

Enlarge text
Cover ImageCover image via instagram
Logo

Dwi Ariyani, 36 tahun, seorang penyandang disabilitas asal Solo tidak diizinkan untuk melakukan penerbangan setelah pihak maskapai mengetahui bahwa Dwi berpergian solo

Saat itu Dwi hendak menuju Jenewa untuk menghadiri undangan dari IDA (International Disability Alliance) untuk mengikuti pelatihan tentang CRPD (Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas) di kantor PBB. Berangkat dari Solo dengan maskapai Garuda Indonesia, sekitar pukul 20.00 WIB beliau tiba di Bandara Soekarno Hatta untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Jenewa dengan maskapai *Etihad Airways*.

Proses *check-in* [diketahui] (https://www.facebook.com/yonnasfi.jambak/posts/10207639017106975?pnref=story) berjalan normal hingga beberapa menit setelah Dwi berada dalam pesawat, pimpinan kru pesawat menghampiri dan memberikan pertanyaan seputar apakah kondisi Dwi saat itu memungkinkannya untuk melakukan evakuasi diri sendiri apabila terjadi kecelakaan pesawat.

**Pada akhirnya** ***airport operations officer*** **menginformasikan bahwa Kru Kabin tidak dapat mengizinkan Dwi untuk ikut terbang karena tidak membawa pendamping. Dwi tetap meyakinkan hal itu bukan masalah karena ini bukan kali pertama dirinya berpergian dengan pesawat seorang diri. Kembali dengan alasan peraturan keamanan pesawat, mereka tetap tidak mengizinkan Dwi untuk ikut terbang.**

Image via Instagram

Kronologi terjadinya diskriminasi yang diunggah pada akun Facebook [Yonnasfi Jambak] (https://www.facebook.com/yonnasfi.jambak/posts/10207639017106975?pnref=story), Suami dari Dwi Ariyani sendiri

Kronologi terjadinya diskriminasi terhadap istri saya sebagai penyandang difabel dengan bantuan kursi roda oleh maskapai…

Posted by Yonnasfi Jambak on Sunday, April 3, 2016

Reaksi netizen bermunculan. Sebagian diantara membandingkan kejadian ini dengan maskapai lain yang menurut pengalaman mereka lebih baik dalam hal menangani penumpang yang menyandang disabilitas

Image via Facebook

Image via Instagram

Hingga seorang netizen yang mengaku dirinya adalah salah satu kru kabin Etihad angkat bicara dan ikut memberikan penjelasan

Image via Instagram

Dia yang mengaku salah satu kru kabin Etihad ini juga menduga kesalahpahaman ini mungkin terjadi karena keteledoran pihak (sales) yang 'mau untung saja' tanpa memberikan cukup informasi

Image via Instagram

Lalu balasan komentar lainnya menganggap hal tersebut tetap bukan alasan peristiwa ini perlu dimaklumi untuk terjadi

Image via Instagram

Image via Instagram

Hingga saat ini, 'tagar' yang digunakan untuk mengkritisi kejadian ini masih bermunculan terutama mereka yang masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari pihak maskapai

Image via Twitter

Melalui [penandatanganan petisi] (https://www.change.org/p/etihadairways-jangan-diskriminasi-disabilitas-ignasiusjonan?recruiter=522082487&utm_source=share_petition&utm_medium=facebook&utm_campaign=share_facebook_responsive&utm_term=mob-xs-share_petition-no_msg&fb_ref=Default) yang dimulai kemarin, Dwi yang pada akhirnya gagal memenuhi undangan ke kantor PBB tersebut berharap kedepannya tidak ada lagi kejadian serupa menimpa penyandang disabilitas lainnya, khususnya di Indonesia.

Ikuti [Facebook] (https://www.facebook.com/SAYSIndonesia/) dan [Twitter] (https://twitter.com/SAYS_ID) kami untuk update berita terbaru!

Image via rebloggy.com

Sementara itu, Senin 4 April 2016 lalu, tabarakan yang terjadi antara BatikAir dan TransNusa menambah daftar panjang kecelakaan pesawat di Indonesia

Pekan lalu kita juga dihebohkan dengan aksi nekat seorang pemuda berkebangsaan Inggris yang mengajak berfoto bersama seorang pelaku aksi teror di pesawat yang ditumpanginya

Lainnya di SAYS Indonesia:

Read more trending stories on SAYS

You may be interested in: