Polisi Menangkap 15 Orang Terkait Bom Gereja Samarinda
Bukan orang-orang 'baru'.
Cover image via OkezoneSejauh ini sudah 15 orang ditangkap terkait kasus pengeboman Gereja Oikumene
Kadiv Humas Polri Irjen Pol Boy Rafly Amar di Mabes Polri, Jakarta, Senin (14/11) menginformasikan, "Saat ini sejumlah orang yang dimintai keterangan, sekitar 15 orang yang kita duga memiliki keterkaitan dengan Joh. Informasinya Joh bertempat tinggal di sebuah masjid tanpa nama di Kota Samarinda."
Dilaporkan oleh [Berita Satu] (http://www.beritasatu.com/nasional/399038-pelaku-bom-gereja-di-samarinda-belajar-rakit-bom-di-aceh.html), **Jo** tersangka pengeboman di Gereja Oikumene tak hanya menggunakan bom molotov untuk meledakkan bagian depan tempat ibadah tersebut. Ia juga memakai bom rakitan.
Pelaku merakit bahan berbahaya itu di rumahnya di belakang masjid tanpa nama di Jalan Cipto Mangunkusumo. "Dilakukan sendiri selama tiga hari. Setelah bom dirakit, pada Hari Minggu (13/11), pelaku mendatangi TKP kemudian melemparkan bom tersebut di halaman rumah ibadah. Pelaku belajar merakit bom di Aceh dari 2009 sampai 2011," ujar Boy.
Tak lama setelah kejadian pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, seorang pelaku bernama Jo [berhasil ditangkap] (http://says.com/id/news/kronologi-ledakan-bom-molotov-di-gereja-oikumene-samarinda) pada Minggu siang (13/11)
Kasus teror yang menewaskan [seorang anak balita] (http://says.com/id/news/intan-marbun-salah-satu-balita-korban-bom-molotov-gereja-samarinda-meninggal-dunia) ini terus ditelusuri oleh polisi.
Dan sampai siang ini (14/11), **sudah lima orang ditangkap atas dugaan terkait dengan kasus pengeboman Gereja Oikumene**, seperti dilansir [Liputan 6] (http://news.liputan6.com/read/2651474/5-orang-ditangkap-terkait-bom-samarinda?utm_source=dlvr.it&utm_medium=twitter).
Berdasarkan informasi dari Kapolri Jenderal **Tito Karnavian** di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Senin (14/11), "Lima orang lagi sudah ditangkap dan sedang dikembangkan."
Tito Karnavian di momen pelantikannya di Istana Negara, 13 Juli 2016.
Image via Reuters/Strait Times
Suasana Tempat Kejadian Perkara pasca-pengeboman Gereja Oikuene, Samarinda, Minggu (13/11)
Image via Facebook/Freijae Rakasiwi
Orang-orang lama, jaringan teroris yang tak baru
[Okezone] (http://news.okezone.com/read/2016/11/14/337/1540819/kapolri-lima-pelaku-bom-samarinda-sudah-ditangkap) melaporkan bahwa jaringan pelaku pengeboman bukan orang-orang baru, melainkan mereka yang juga terkait kasus teror bom di Serpong dan bom buku di Utan Kayu, Jakarta.
Mereka berafiliasi di dalam kelompok **Pepi Fernando** yang kini bergabung dengan **Jemaah Ahshorut Daulah**. Organisasi ini **merupakan afiliasi ISIS di Indonesia**.
Gereja: Kekerasan tak pernah bisa menyelesaikan masalah
Dilansir dari [Tempo] (https://nasional.tempo.co/read/news/2016/11/14/058819979/bom-di-gereja-samarinda-pgi-minta-umat-tak-tebar-opini-liar), Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), diwakili oleh Sekretaris Umum PGI, Pendeta Gomar Gultom, menyampaikan, "Tindakan kekerasan, apa pun bentuknya, tidak akan pernah bisa menyelesaikan masalah. Sebagai bangsa yang beradab, kita telah menyepakati bahwa alat pemaksa dan kekerasan hanya boleh digunakan oleh negara, dan itu pun harus melalui proses hukum."
Dalam informasi tertulisnya, Senin (14/11), Gomar juga mendoakan para korban pengeboman gereja Samarinda kemarin (13/11), "Kiranya Allah memberikan pemulihan bagi korban luka-luka, terutama anak-anak."
Warga mengunjungi Gereja Oikumene, setelah tragedi pengeboman, Minggu (13/11).
Image via Tempo/Firman Hidayat

