Polisi Tiongkok Larang Hotel Terima Tamu Dari Sejumlah Negara Dengan Mayoritas Islam
Apa alasannya?
Cover image via SAYS IndonesiaPolisi lokal melarang sejumlah hotel di Guangzhou, Tiongkok, untuk menerima tamu dari lima negara dengan mayoritas penduduk beragama Muslim
Kelima negara yang dilaporkan antara lain Pakistan, Syiria, Irak, Turki dan Afghanistan. Berita ini santer terdengar setelah larangan pertama kalinya diberlakukan ke tiga hotel *low budget* di bagian selatan Guangzhou untuk tidak menerima tamu dari kelima negara tersebut. Ketiga hotel yang mematok harga 150 yuan (atau hanya sekitar 300 ribu rupiah) per malam itu melaporkan pada [Reuters] (http://www.reuters.com/article/us-china-security-hotels-idUSKCN111144) bahwa larangan tersebut mereka dapatkan sejak bulan Maret lalu.
Tanpa diketahui alasan yang jelas mengapa, mereka mendapatkan instruksi bahwa larangan ini berlaku hingga 10 September 2016. Namun, larangan ini tidak ditujukan kepada hotel yang berskala lebih besar atau hotel yang dimiliki pihak asing.
Ada anggapan bahwa larangan ini muncul atas adanya upaya memperketat pengamanan untuk sebuah forum berskala Internasional yang berlokasi di Guangzhou, Tiongkok
Sejumlah pemberitaan media lokal beranggapan larangan ini bertujuan untuk memperketat keamanan dalam menyambut sebuah penyelenggaraan forum berskala Internasional, khususnya *G20 Summit* yang akan berlangsung pada 4 dan 5 September 2016. Dalam forum tersebut, jumlah pengunjung asing yang hadir akan mencapai angka yang tinggi termasuk di antaranya tokoh-tokoh kunci dunia antara lain Barrack Obama dan pimpinan-pimpinan negara lainnya.
13 November 2015 lalu atau dua hari sebelum berlangsungnya *G20 Summit 2015* di Turki, sebuah aksi teror berupa pengeboman di sejumlah titik di Paris terjadi yang diikuti oleh aksi penembakan. Peristiwa tersebut menelan sedikitnya 130 korban jiwa.
Kementrian luar negeri tidak tahu menahu tentang adanya larangan ini
Juru bicara Kementrian Luar Negeri Tiongkok, Lu Kang, mengatakan kepada [media] (http://www.reuters.com/article/us-china-security-hotels-idUSKCN111144) bahwa pihaknya tidak mengetahui adanya larangan seperti ini. Belum jelas ada atau tidaknya tindak lanjut akan larangan yang tidak diketahui pemerintah pusat ini. Menurutnya, larangan ini bertentangan dengan apa yang saat ini dijunjung tinggi Tiongkok untuk mengajak masyarakatnya menjalin hubungan baik dengan masyarakat Internasional.
Kebijakan di Tiongkok sebelumnya terkait Islam yang juga menjadi sorotan publik adalah larangan berpuasa bagi masyarakat Muslim di Xinjiang
Xinjiang adalah sebuah wilayah di Tiongkok yang menjadi rumah bagi suku minoritas Uighur yang mayoritas beragama muslim. Sudah bertahun-tahun pemerintah setempat melarang mereka untuk melakukan ibadah puasa di bulan Ramadhan maupun aktifitas keagamaan lainnya.

