Penelitian: Setiap 3 Dari 4 Remaja Indonesia Berjiwa Radikal

Hanya 1 dari 4 yang tidak radikal.

Enlarge text
Cover ImageCover image via SAYS Indonesia
Logo

Sultan Azianzah, pemuda 22 tahun ini Kamis kemarin memutuskan menyerang pos polisi di Tangerang… seorang diri

Sultan menjadi anggota [Daulah Islamiah] (http://www.cnnindonesia.com/nasional/20161020132021-20-166768/menhan-ryamizard-minta-masyarakat-waspadai-isis/), organisasi pendukung ISIS, sejak 2 tahun lalu.

Entah 'ceramah' apa yang diberikan organisasi tersebut hingga **Sultan berani menyerang kantor polisi seorang diri** walaupun cuma **bersenjata golok dan bom** yang ternyata [tidak meledak saat dilempar] (http://news.detik.com/berita/d-3325312/begini-detik-detik-kapolsek-tangerang-dan-anggotanya-diserang-dengan-golok). Bahkan setelah [kakinya ditembak petugas] (http://news.detik.com/berita/d-3325312/begini-detik-detik-kapolsek-tangerang-dan-anggotanya-diserang-dengan-golok), Sultan terus menyerang.

**Sultan akhirnya [meninggal setelah kehabisan darah] (http://www.antaranews.com/berita/591352/sultan-azianzah-penyerang-polisi-tewas-kehabisan-darah)**.

Sultan akhirnya tertangkap namun meninggal saat di perjalanan ke rumah sakit karena kehabisan darah

Image via okezone

Tapi Sultan tidak sendiri, dia hanya 'pemain baru' dalam daftar panjang remaja Indonesia yang melakukan tindakan radikalisme

Agustus lalu, Ivan, **seorang remaja 18 tahun** malah **melakukan percobaan pengeboman** dan penyerangan kepada seorang pastor di Gereja Santo Yosep, Medan. Diduga, **tindakan tersebut dilakukannya karena ['terinspirasi' serangan teror di Perancis] (http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/08/160828_indonesia_medan_penyelidikan)**.

Ivan saat diamankan polisi setelah melakukan percobaan bom bunuh diri. Polisi juga menemukan simbol ISIS di dompet Ivan.

Image via kabarjambi.net

Menurut [penelitian] (http://mediaindonesia.com/news/read/73261/75-generasi-muda-berjiwa-radikal/2016-10-21#), 75% remaja di Indonesia memiliki kecenderungan radikalisme. Ini artinya setiap 3 dari 4 remaja Indonesia berisiko menjadi Sultan dan Ivan berikutnya.

Wakil Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang Muhamad Qustulani mengatakan dirinya pernah meneliti tingkat radikalisme di kalangan pelajar. **Hasilnya menunjukkan tingkat radikalisme yang tinggi, yakni [mencapai 75%] (http://mediaindonesia.com/news/read/73261/75-generasi-muda-berjiwa-radikal/2016-10-21#)**.

Hal ini disampaikan Qustulani saat menghadiri sebuah diskusi di Tangerang, Kamis kemarin. **Wakil Ketua Umum MUI Kota Tangerang** A Baijuri Khotib yang juga hadir dalam diskusi tersebut **[mengatakan dirinya setuju] (http://mediaindonesia.com/news/read/73261/75-generasi-muda-berjiwa-radikal/2016-10-21#)** dengan gagasan Qustulani.

Jika dibiarkan, 3 dari 4 anak Indonesia terancam tumbuh menjadi pendukung radikalisme

Image via istimewa/sindonews

Sementara itu, penelitian lain oleh Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) menyatakan [hampir 50%] (http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2011/04/110426_surveiradikalisme.shtml) pelajar bersedia ikut aksi kekerasan yang berkaitan dengan agama

Di dalam penelitian yang dilakukan dari tahun 2010 hingga 2011 tersebut juga ditemukan bahwa **25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi**. 84,8% siswa dan 76,2% guru bahkan setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia.

Menurut penelitian tersebut, **52,3% siswa setuju dengan kekerasan atas nama agama** sementara **14,2% siswa juga menyatakan setuju dengan serangan bom**.

Hampir 50% pelajar mengatakan bersedia ikut aksi kekerasan yang berkaitan dengan agama

Image via tempo.co

Untuk tingkat mahasiswa pun, tingkat radikalisme tidak kalah tinggi

Pada tahun 2011 lalu, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pernah melakukan penelitian serupa untuk tingkat mahasiswa. **Penelitian** yang dilakukan di UGM, UI, IPB, Unair, Undip ini **menunjukkan peningkatan paham radikalisme di kalangan mahasiswa**.

Sejumlah massa Hizbut Tahrir Indonesia membawa banner saat mengikuti puncak acara Muktamar Khilafah 2013 di Stadion Gelora Bung Karno

Image via tempo.co

Menurut Wakil Ketua (STISNU) Tangerang, Qustulani, [intervensi oleh pemerintah diperlukan] (http://mediaindonesia.com/news/read/73261/75-generasi-muda-berjiwa-radikal/2016-10-21#) untuk mencegah semakin luasnya radikalisme

Salah satunya adalah dengan menyebarkan pemahaman bahwa **Indonesia bukan negara Islam, melainkan negara yang berideologi Pancasila**.

Hal ini penting, terutama setelah pada tahun lalu saja, 4% atau 10 juta penduduk Indonesia menjadi [simpatisan ISIS] (http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/11/151120_dunia_islam_gch)

Data menunjukkan 4% penduduk Indonesia mendukung ISIS

Image via Pew Research Center/BBC

Bagaimana dengan kamu? Dari 4 remaja, apakah kamu termasuk 1 yang tidak radikal?

Jangan lupa like [Facebook] (http://bit.ly/saysidfb), follow [Twitter] (http://bit.ly/saysidtwitter), dan [Subscribe] (http://bit.ly/saysidsubscribe) SAYS Indonesia untuk berita lainnya

Sementara itu, sebagian siswa bahkan tidak mau memilih ketua OSIS atau ketua kelas yang berbeda agama

Baca juga berita lainnya

Read more trending stories on SAYS

You may be interested in: