Penelitian: Nomor Urut Calon Bukan Cuma Angka, Tapi Berdampak Pada Hasil Pemilu
Dan berbagai penelitian menunjukkan hasil yang serupa.
Cover image via SAYS IndonesiaSelasa 25 Oktober kemarin, KPUD DKI Jakarta [mengumumkan nomor urut] (http://www.thejakartapost.com/news/2016/10/25/1-2-3-the-order-is-agus-ahok-anies.html) pasangan setiap Cagub
Dengan metode pengundian secara acak, KPUD menentukan bahwa **pasangan Agus-Sylviana mendapat urutan 1, pasangan Ahok-Djarot mendapat urutan 2, dan terakhir pasangan Anies-Sandiaga ada di urutan 3**.
Tapi apakah nomor urut ini cuma sekadar angka, atau ada dampaknya terhadap hasil pemilu nanti?
Secara umum, menjadi pasangan **nomor urut 1 akan memberikan kemudahan untuk pembuatan slogan kampanye**.
Walaupun demikian, Presiden Joko Widodo yang pada pilpres tahun 2014 mendapat nomor urut 2 berhasil memenangkan pemilu dengan slogan 'salam dua jari'.
Berbagai [penelitian] (http://www.centerforpolitics.org/crystalball/articles/ljs2009081305/) menunjukkan bahwa semakin awal nama kandidat muncul di kertas suara, semakin besar kemungkinan kandidat tersebut mendapat suara tambahan
Walaupun setiap penelitian menunjukkan hasil yang berbeda-beda, salah satu [penelitian di negara bagian Illinois] (http://www.jstor.org/stable/pdf/3657312.pdf?seq=1#page_scan_tab_contents), Amerika Serikat menyimpulkan bahwa **kandidat urutan 1 dapat memperoleh suara tambahan hingga 5,2%**.
Menurut ahli politik, salah satu penyebabnya adalah pengaruh psikologi saat pemilih berada di bilik suara (bias urutan pertama)
Larry J. Sabato, ahli politik dari University of Virginia mengatakan bahwa **[psikologi pemilih memberi pengaruh] (http://www.centerforpolitics.org/crystalball/articles/ljs2009081305/) besar terhadap kandidat yang dipilih**. Fenomena ini disebut ***first-listing bias*** atau bias urutan pertama.
Menurut Larry, **pada saat berada di bilik suara, pemilih cenderung merasa gugup atau tegang**. Hal ini diperparah dengan banyaknya orang yang mengantri sehingga membuat mereka harus mengambil keputusan dengan cepat.
Jika pemilih memang dari awal belum menentukan pilihan, kemungkinan mereka 'asal memilih' kandidat urutan awal menjadi lebih tinggi.
Ilustrasi: Saat memilih, pemilih diawasi petugas dan ditunggu pemilih lain yang mengantri
Image via tribunnews.com
Bias urutan pertama ini lebih sering terjadi pada pemilu dengan jumlah kandidat yang banyak dan tidak terkenal
Menurut [Larry] (http://www.centerforpolitics.org/newslet_909cb.html), **efek bias ini tidak terlalu besar pada pemilu tingkat tinggi seperti pemilu presiden atau gubernur**. Alasannya karena kandidat pada pemilu jenis ini sudah terkenal dan pemilih sudah menentukan pilihannya dari awal.
**Namun untuk pemilu tingkat lebih rendah** seperti pemilu DPRD dan DPD di mana pemilih seringkali tidak mengenali para kandidat, **bias urutan pertama memiliki efek lebih besar**.
Tapi ini bukan berarti bias tersebut tidak terjadi pada pemilu dengan jumlah kandidat yang sedikit
Sebuah [penelitian] (http://cpsblog.isr.umich.edu/?p=311) oleh Professor Asisten Josh Pasek dan Pusat Studi Politik University of Michigan menemukan bahwa **bias urutan pertama juga terjadi pada pemilu dengan jumlah kandidat 5 atau kurang**.
Josh Pasek menggunakan data pemilu di negara bagian California, Amerika Serikat selama selama 30 tahun dari 1976 hingga 2006.
Penelitian tersebut menunjukkan rata-rata kandidat urutan pertama mendapat suara lebih banyak walaupun jumlah kandidat hanya 5 orang
Garis hitam tebal menunjukkan rata-rata perolehan kandidat. Angka di sumbu bawah menunjukkan urutan kandidat di kertas suara.
Image via Center for Political Studies University of Michigan
Begitupun saat kandidat pemilu hanya 4 orang
Penelitian ini menunjukkan bahwa **semakin ujung posisi kandidat di kertas suara, suara yang diperoleh semakin turun**. Menariknya, ternyata **terdapat kenaikan suara untuk kandidat terakhir**, walaupun tidak sebesar kandidat pertama.
Hal ini terjadi secara konsisten saat terdapat 5 ataupun 4 kandidat. Ini menunjukkan bahwa pemilih cenderung melihat kandidat pertama dan terakhir namun tidak terlalu memperhatikan kandidat di tengah.

