Inilah Analisa Kelebihan Dan Kekurangan Setiap Cagub-Cawagub DKI 2017

Agar kamu dapat menentukan pilihan dengan tepat di Pilgub nanti.

Enlarge text
Cover ImageCover image via SAYS Indonesia
Logo

Semua pasangan cagub dan cawagub DKI memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, dan itu fakta

Kuncinya adalah dengan melihat kelebihan pasangan mana yang paling dibutuhkan Jakarta saat ini, serta kekurangan pasangan mana yang paling bisa kita tolerir dan masih bisa diperbaiki.

Daftar ini akan membantu kamu untuk melihat kelebihan dan kekurangan itu agar dapat menentukan pilihan yang paling sesuai untuk menciptakan Jakarta seperti yang kamu inginkan

Sebelum kamu baca lebih lanjut, kamu harus pahami dulu bahwa sebagian kelebihan juga dapat digolongkan sebagai kekurangan. Fakta Ahok beragama Kristen misalnya dapat dianggap kelebihan bagi sebagian orang karena merupakan simbol mulai diakuinya kaum minoritas dalam sektor publik. Untuk kamu yang merasa pemimpin sebaiknya beragama Islam, hal ini bisa justru dianggap kekurangan. Jadi sekali lagi, **kelebihan dan kekurangan ini dapat bersifat subjektif, tergantung Jakarta seperti apa yang kamu inginkan**.

Kita mulai dengan pasangan pertama, Ahok-Djarot

Image via Antara Foto

Kelebihan #1 Pasangan ini didukung lebih dari setengah jumlah kursi di DPRD

Pasangan Ahok-Djarot didukung oleh Partai Golkar, Nasdem, PDI-P, dan Hanura, dengan [total 52 kursi di DPRD] (http://www.thejakartapost.com/news/2016/09/25/real-battle-in-jakarta-election-between-anies-and-agus-analyst-says.html). Hal ini berbeda dengan kedua pasangan lain yang partai pendukungnya hanya mencapai [masing-masing 24 kursi di DPRD] (http://www.thejakartapost.com/news/2016/09/25/real-battle-in-jakarta-election-between-anies-and-agus-analyst-says.html).

**Program-program yang diajukan gubernur termasuk anggaran harus disetujui terlebih dahulu oleh DPRD** agar dapat dilaksanakan. Dengan jumlah dukungan yang besar di DPRD, program-program yang diajukan Ahok-Djarot dapat lebih cepat disetujui dan dilaksanakan. Sebagai gambaran, pembahasan APBD tahun ini memakan waktu yang cukup lama. *Ingat perdebatan Ahok VS Haji Lulung tentang UPS kan?* Hal ini dapat dihindari jika gubernur dan DPRD saling mendukung.

Ahok dan Haji Lulung sempat berseteru terkait APBD DKI

Image via aktualpost.com

Kelebihan #2 Kinerja Ahok sudah terbukti

Semenjak menjabat, berbagai program sudah dilaksanakan oleh Ahok, diantaranya Kartu Jakarta Sehat dan Kartu Jakarta Pintar, transparansi anggaran yang lebih baik, serta pemangkasan pejabat yang bermasalah. Di lain bidang, Ahok juga berhasil mengembangkan berbagai [Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA)] (https://id.wikipedia.org/wiki/Ruang_Publik_Terpadu_Ramah_Anak) serta [penambahan armada TransJakarta] (https://m.tempo.co/read/news/2016/04/19/083763863/tambah-600-armada-ini-rute-baru-bus-transjakarta).

Kartu Jakarta Pintar, salah satu program yang berhasil dilaksanakan Ahok

Image via metrotvnews.com

Kekurangan #1 Keputusan Ahok untuk maju sebagai calon partai dan bukan calon independen seperti dijanjikan membuat integritasnya dipertanyakan

Setelah sebelumnya berhasil mengumpulkan 1 juta KTP untuk maju sebagai calon independen, [Ahok akhirnya memutuskan maju lewat jalur partai] (https://m.tempo.co/read/news/2016/07/27/083791063/pilgub-dki-jakarta-ahok-putuskan-maju-lewat-jalur-partai). Salah satu alasannya adalah [verifikasi faktual] (http://www.sindosatu.com/umum/3-parpol-besar-dan-teman-ahok-setujuahok-maju-pilgub-lewat-jalur-partai.html) yang harus dilakukan untuk setiap pemilik KTP yang mendukung Ahok dirasa memberatkan. Meski begitu Teman Ahok yang merupakan grup relawan yang membantu mengumpulkan KTP menyatakan [tetap mendukung Ahok] (http://www.antaranews.com/berita/575509/maju-lewat-parpol-teman-ahok-mantap-dukung-ahok). Menurut Teman Ahok, tujuan mereka dan partai parpol adalah sama yakni untuk memenangkan Ahok.

Selain itu, Ahok juga terlibat dalam beberapa kontroversi, diantaranya berbagai kasus penggusuran yang dilakukannya serta kasus reklamasi di Jakarta Utara.

Ahok saat menghadiri penghitungan 1 juta KTP untuk dirinya maju dengan jalur independen

Image via tempo.co

Kekurangan #2 Ahok terkenal sering menggunakan kata-kata kasar dan blak-blakan

Kebiasaannya ini dianggap merupakan tindakan yang kurang baik untuk seorang pemimpin. Mantan Walikota Jakarta Utara, [Rustam Effendy, bahkan memutuskan mengundurkan diri] (http://says.com/id/news/dimarahi-ahok-walikota-jakarta-utara-mengundurkan-diri) dari jabatannya karena dimarahi Ahok. Dirinya menganggap Ahok tidak mengapresiasi kinerjanya.

Pasangan kedua, Anies-Sandiaga

Kelebihan #1 Anies Baswedan dikenal sebagai tokoh yang bersih dan menginspirasi

Anies Baswedan merupakan tokoh pendidik yang dikenal setelah dirinya mendirikan [Indonesia Mengajar] (https://indonesiamengajar.org/), sebuah program yang menghubungkan pemuda-pemudi berprestasi di kota besar dengan anak-anak di berbagai desa terpencil di Indonesia. Peserta Indonesia Mengajar sendiri tidak hanya mengembangkan pendidikan anak-anak di desa tersebut tapi juga menjadi bagian dari masyarakat selama setahun.

Peserta Indonesia Mengajar berfoto dengan anak didiknya

Image via www.kompasiana/azkasubhan

Kelebihan #2 Sandiaga Uno dianggap dapat melengkapi Anies di bidang bisnis dan ekonomi

[Sandiaga Uno] (https://id.wikipedia.org/wiki/Sandiaga_Uno) merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia. Pada tahun 2011, Forbes menempatkan dirinya di urutan ke-37 orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan mencapai 660 juta USD. Bidang usaha yang dimilikinya mencakup pertambangan, kehutanan, telekomunikasi, dan keuangan. Pengalamannya di bidang bisnis dipercaya dapat membawa nilai tambah untuk Jakarta yang merupakan pusat bisnis di Indonesia.

PT Saratoga Investama Sedaya Tbk milik Sandiaga berinvestasi di berbagai bidang, termasuk energi

Image via saratoga-investama.com

Kekurangan #1 Anies belum mampu membuktikan dirinya dapat menjalankan program yang kongkret

Tidak ada yang meragukan Anies untuk urusan mendidik. Tapi menjadi pemimpin Jakarta membutuhkan lebih dari itu. Anies harus mampu membuktikan bahwa dirinya memiliki program-program yang kongkret dan realistis untuk Jakarta. Kenyataan bahwa dirinya dikeluarkan dari kabinet saat *reshuffle* kedua juga membuat kredibilitasnya dipertanyakan.

Anies Baswedan saat serah terima jabatan dengan Muhajir Effendy

Image via Liputan6.com/Johan Tallo

Kekurangan #2 Nama Sandiaga sempat muncul di Panama Paper dan membuat integritasnya diragukan

[Panama Paper] (http://says.com/id/news/jawaban-untuk-6-pertanyaan-tentang-panama-paper) adalah sebuah dokumen yang mengandung nama-nama pemilik aset dan perusahaan di negeri bebas pajak. Sebagian pemilik aset memutuskan menyimpan kekayaannya di tempat tersebut untuk menghindari pembayaran pajak kepada negara. Walaupun [Sandiaga mengatakan tujuannya memiliki aset di luar negeri bukan untuk menghindari pajak] (http://says.com/id/news/sandiaga-uno-kita-bayar-pajak-dan-kewajiban-lainnya) dan dirinya siap diperiksa, namun hal ini tetap membuat integritasnya diragukan.

Pasangan ketiga, Agus-Sylviana

Image via jawapos.com

Kelebihan #1 Agus-Sylviana memiliki dukungan dari 3 partai Islam

Selain Partai Demokrat, ketiga partai Islam di Indonesia yakni PKB, PPP, dan PAN adalah pendukung pasangan ini. Dengan dukungan ketiga partai Islam, Agus dapat memikat pemilih yang menginginkan pemimpin muslim. Satu-satunya partai Islam yang tidak mendukung pasangan ini adalah PKS yang menjadi pengusung Anies-Sandiaga bersama partai Gerindra.

Partai Demokrat dan 3 partai Islam dukung Agus-Sylviana

Image via detik.com

Kelebihan #2 Diantara seluruh cagub dan cawagub, Sylviana Murni merupakan salah satu calon yang paling berpengalaman sebagai birokrat di Jakarta

[Sylviana] (https://id.wikipedia.org/wiki/Sylviana_Murni) sempat menjadi Kepala Dinas Pendidikan Dasar DKI pada tahun 2004, Walikota Jakarta Pusat pada tahun 2008 – 2010, dan sebelum mencalonkan diri sebagai cawagub, dirinya adalah Deputi Gubernur Bidang Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta. Selain karir sebagai birokrat, Sylviana juga mendapat gelar Professor dari Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka. **Karirnya sebagai birokrat akan membantu memahami seluk beluk Jakarta untuk penyusunan program yang baik**.

Sylviana sudah berpengalaman sebagai birokrat

Image via aktualita.co

Kekurangan #1 Agus dianggap tidak berpengalaman untuk memimpin Jakarta

Agus Yudhoyono [meninggalkan karirnya di militer] (http://megapolitan.kompas.com/read/2016/09/27/17464831/agus.yudhoyono.resmi.akhiri.tugasnya.sebagai.komandan.batalyon) dan mencalonkan diri menjadi gubernur DKI tanpa sempat mendapat pengalaman sebagai birokrat. Walaupun kurangnya pengalaman Agus dapat tertolong oleh pengalaman Sylviana, **dirinya tetap harus belajar dengan cepat, yakni dalam waktu 4,5 bulan saja** sebelum pilgub pada tanggal 15 Februari 2017.

Agus mengundurkan diri dari posisinya di militer

Image via manado.tribunnews.com

Kekurangan #2 Pengaruh SBY dapat menjadi terlalu kuat untuk pasangan ini

Kenyataan bahwa yang dicalonkan adalah Agus Yudhoyono, bukan Rizal Ramli atau Yusril Ihza Mahendra memang cukup mengejutkan. Salah satu dugaannya adalah karena pengaruh SBY sebagai ketua umum Partai Demokrat yang merupakan salah satu partai pendukung Agus selain PKB, PPP, dan PAN.

Dengan pengaruh SBY yang kuat, pasangan ini menjadi mirip dengan Jokowi yang pada saat mencalonkan diri menjadi presiden dianggap berada dalam bayang-bayang Megawati.

Pengaruh SBY kepada Agus dianggap mirip dengan pengaruh Megawati pada Jokowi

Image via liputan6.com

Lalu, pasangan mana yang akan kamu pilih?

Untuk berita lainnya setiap hari, like [Facebook] (http://bit.ly/saysidfb), follow [Twitter] (http://bit.ly/saysidtwitter), dan [Subscribe] (http://bit.ly/saysidsubscribe) SAYS Indonesia

Meski terdapat 3 calon, menurut pengamat pertarungan sebenarnya adalah antara Anies dan Agus

Baca juga berita lainnya

Read more trending stories on SAYS

You may be interested in: