Film Tentang Sisi Gelap Poligami Raih Penghargaan Sebagai Film Terbaik Indonesia FFI 2016
Mengangkat Athirah, sosok perempuan tangguh penuh solusi.
Cover image via AthirahAthirah, film produksi Mira Lesmana dan arahan Sutradara Riri Riza ini berhasil keluar sebagai Film Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) 2016
*Athirah* mengungguli 5 film lainnya dalam jajaran nominasi yaitu *Rudy Habibie*, *Salawaku*, *Surat dari Praha*, *Aisyah,* dan *Biarkan Kami Bersaudara*.
Melalui *Athirah* penghargaan lain yang berhasil direbut antara lain:
1. Riri Riza sebagai Sutradara Terbaik
2. Salman Aristo dan Riri Riza sebagai Penulis Naskah Adaptasi Terbaik
3. Eros Eflin sebagai Pengarah Artistik Terbaik
4. Chitra Subyakto sebagai Penata Busana Terbaik
5. Cut Mini sebagai Pemeran Wanita Terbaik
Image via Film Athirah
Athirah mengangkat kisah perempuan bernama Athirah dan bagaimana dengan bijak ia menyikapi hidup saat suaminya memutuskan untuk melakukan poligami
Secara garis besar, film bertemakan isu lembaga perkawinan ini menggiring penonton untuk melirik sisi gelap dari Poligami dalam keluarga, khususnya jika itu dilakukan sepihak tanpa kesepakatan sebelumnya.
Keterbatasan gerak sebagai seorang Istri pada saat itu tidak membuat Athirah tinggal diam. Film menyorot keputusan-keputusan Athirah setelah dirinya dimadu tanpa kesepakatan sebelumnya. Tiga dari sekian sikap Athirah yang menjadi sorotan dalam film:
1. Saat dirinya memutuskan untuk langsung makan tanpa menunggu sang Suami yang menghabiskan waktu lebih banyak dengan Istri muda. Padahal dalam keluarga Bugis (Makassar) yang menjadi latar belakang film, tradisi makan bersama adalah satu hal penting yang dijunjung tinggi karena menjadi simbol keutuhan keluarga. Bahkan saat satu anggota keluarga tidak hadir, kursi dibiarkan kosong. Athirah juga membiarkan kursi sang Suami diisi oleh anak perempuan mereka.
2. Saat dirinya memilih untuk tidak terpuruk oleh kesedihan atas absennya peran Suami yang sibuk dengan Istri muda. Ia mencoba bangkit dan mencari solusi. Dalam satu titik cerita, Athirah dikisahkan mulai membuka bisnis sarung tenun sutra dan turut melibatkan perempuan di sekitarnya.
3. Saat dengan elegan ia masih berbelas kasih kepada sang Suami. Dalam satu titik cerita, sang Suami dikisahkan terkena dampak melemahnya ekonomi pada tahun 1959 dan membuatnya mengalami problematik finansial yang cukup parah. Ia kembali kepada Athirah yang pada akhirnya menjadi solusi dengan memberikan harta yang ia kumpulkan dari berbisnis selama ini.
Sosok 'perempuan dengan solusi' ini merupakan sosok nyata dalam realita yakni Ibunda dari Wakil Presiden Indonesia periode 2014-2019 Jusuf Kalla
Selain memberikan ruang bagi masyarakat untuk kembali melihat Poligami dan berbagai resiko yang mungkin terjadi, film juga diharapkan dapat memberikan semangat bagi perempuan Indonesia untuk berani mengambil sikap dalam lembaga perkawinan serta semangat untuk terus menjadi penyedia solusi dalam berbagai situasi.
Selain Athirah, berikut daftar lengkap pemenang Festival Film Indonesia 2016
**Film Terbaik:** *Athirah,* Produser Mira Lesmana
**Sutradara Terbaik:** Riri Riza, film *Athirah*
**Pemeran Utama Wanita Terbaik:** Cut Mini, film *Athirah*
**Pemeran Utama Pria Terbaik:** Reza Rahardian, film *My Stupid Boss*
**Pemeran Pendukung Wanita Terbaik:** Raihanun, film *Salawaku*
**Pemeran Pendukung Pria Terbaik:** Alex Abad, film *My Stupid Boss*
**Pemeran Anak Terbaik:** Elko Kastanya, film *Salawaku*
**Penata Artistik Terbaik:** Eros Eflin film *Athirah*
**Penata Busana Terbaik:** Chitra Subyakto, film *Athirah*
**Penata Efek Visual Terbaik:** Andi Novianti, film *Headshot*
**Penata Suara Terbaik:** Fajar Yuskemal, Aria Prayogi, M Ichsan Rachmaddita, *film Headshot*
**Penyunting Gambar Terbaik:** Wawan I Widodo, film *My Stupid Boss*
**Lagu Tema Terbaik:** Anto Hoed dan Melly Goeslow, film *Ada Apa Dengan Cinta 2*
**Penata Musik Terbaik:** Anto Hoed dan Melly Goeslow, film *Ada Apa Dengan Cinta 2*
**Pengarah Sinematografi Terbaik:** Faozan Rizal, film *Salawaku*
**Penulis Skenario Adaptasi Terbaik**: Salman Aristo dan Riri Riza, film *Athirah*
**Penulis Skenario Asli Terbaik:** Jujur Prananto, *Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara*
**Film Pendek Terbaik:** *Prenjak*, Sutradara Wregas Bhanuteja
**Film Animasi Terbaik:** *Surat Untuk Jakarta,* Sutradara Andre Sugianto, Aditya Prabaswara, Ardhira Anugrah Putra
**Film Dokumenter Panjang Terbaik:** *Gesang Sang Maestro Keroncong,* Sutradara Marselli Sumarno
**Film Dokumenter Pendek Terbaik:** *Mama Amamapare*, Sutradara Yonri S Revolt dan Febian Kakisina.

