Alasan Ahok Pilih Jalur Partai Dan 5 Hal Lain Yang Harus Kamu Tahu Tentang Ini
Dan proses ini tidak sesederhana yang mungkin kamu pikirkan.
Cover image via SAYS IndonesiaGubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, hari Rabu, 27 Juli 2016 kemarin akhirnya memutuskan untuk maju sebagai calon partai, bukan calon independen seperti yang direncanakan sebelumnya
Keputusan ini diumumkan Ahok, nama panggilan Basuki Tjahaja Purnama, ditengah *halal bi halal* yang diadakan oleh grup relawan pendukung Ahok, Teman Ahok, pada hari Rabu sore kemarin. Keputusan ini berbeda dengan rencana sebelumnya bahwa Ahok akan maju sebagai calon independen tanpa dukungan partai. Teman Ahok juga telah [berhasil mengumpulkan cukup KTP dukungan] (http://says.com/id/news/teman-ahok-capai-target-ktp-untuk-ahok) agar Ahok dapat maju sebagai calon independen.
Tapi apa sebenarnya alasan Ahok akhirnya memutuskan maju sebagai calon dari partai? Bukan cuma alasannya, kami telah kumpulkan 5 hal lain yang juga harus kamu tahu.
1. Apa sih alasannya Ahok maju lewat jalur partai? Kan sebelumnya sudah berencana maju lewat jalur independen?
Seperti dikutip oleh [tempo.co] (https://m.tempo.co/read/news/2016/07/28/078791169/kenapa-ahok-akhirnya-pilih-jalur-partai-di-pilkada-dki), Ahok menjelaskan bahwa alasannya memilih jalur partai adalah karena **kesamaan tujuan antara pendukungnya dari jalur independen dan dari jalur partai**. Ketiga partai yang menyatakan mendukung Ahok, Hanura, Nasdem, dan Golkar bertujuan yang sama dengan Teman Ahok, yakni agar Ahok terpilih menjadi Gubernur DKI. "Mereka sama saja kan (tujuannya). Kita lihat awal perjuangan Teman Ahok, banyak orang parpol yang diam-diam juga dukung. Banyak yang Kasih KTP (dukungan) juga," kata Ahok kepada [tempo.co] (https://m.tempo.co/read/news/2016/07/28/078791169/kenapa-ahok-akhirnya-pilih-jalur-partai-di-pilkada-dki).
Selain itu, baik **Teman Ahok maupun partai pendukung telah menunjukkan bahwa mereka bisa bekerja sama**. Pada saat Teman Ahok meminta partai politik pendukung membuat surat pernyataan dukungan tertulis, partai politik pendukung Ahok setuju dan menyelesaikan prosesnya dengan cepat. Menurut Ahok, **ini adalah pertama kalinya partai politik tunduk pada kehendak rakyat**. Alasan lainnya adalah **Ahok merasa dukungan dari partai politik kepadanya harus dihargai**. "Jadi ya sudah, kalau begitu parpol ajalah, orang sama kok (tujuannya), orang dari awal sama-sama pengen dukung," tutur Ahok seperti dikutip [tempo.co] (https://m.tempo.co/read/news/2016/07/28/078791169/kenapa-ahok-akhirnya-pilih-jalur-partai-di-pilkada-dki).
2. Terus Teman Ahok setuju?
**Ya. Teman Ahok sudah setuju dan menghargai keputusan Ahok untuk maju sebagai calon partai**. Keputusan ini juga diambil setelah diadakan diskusi antara ketiga pihak, yakni Ahok, Teman Ahok dan partai politik pendukung Ahok. Amalia Ayuningtyas, juru bicara Teman Ahok membenarkan ini. Kepada [detik.news] (https://news.detik.com/berita/3262966/ahok-saya-pilih-jalur-parpol) dirinya mengatakan, "Kami menghargai dan mendukung keputusan Ahok, setelah kami lakukan dialog dengan Basuki Tjahaja Purnama, perwakilan tiga partai pendukung, Akhirnya Ahok memutuskan untuk maju menggunakan kendaraan partai politik bersama Teman Ahok."
Ahok saat menghadiri penghitungan satu juta ktp di Sekretariat Teman Ahok, Jakarta, 19 Juni 2016 silam
Image via tempo.co
3. Emang apa bedanya sih kalau ikut jalur partai? Kan KTP-nya sudah terkumpul juga.
Selain dukungan finansial dalam pencalonannya, dengan menjadi calon dari partai Ahok tidak perlu melakukan proses verifikasi KTP yang dipersyaratkan oleh Undang Undang. Ingat kan bahwa [Undang Undang Pilkada yang baru] (http://says.com/id/imo/pertanyaan-untuk-kpud-dki-sanggup-verifikasi-1-juta-ktp-pendukung-ahok-dalam-14-hari) mengharuskan setiap pemilik KTP yang mendukung calon independen harus diverifikasi secara *face-to-face*? Dan yang menyulitkan adalah proses ini harus dilakukan hanya dalam waktu 14 hari saja. Semua pemilik KTP yang tidak dapat ditemui dalam waktu 14 hari ini dianggap tidak valid. **Jika Ahok maju sebagai calon independen, proses yang memakan waktu dan biaya ini tidak perlu dilakukan**.
4. Kalau sudah begini, kesempatan menang Ahok pasti menurun. Ya kan?
Tidak juga. **Sebagian pendukung Ahok mungkin kecewa dengan keputusannya ini, tapi mereka tetap menginginkan Ahok menjadi gubernur DKI**. Setidaknya begitulah menurut Ikrar Nusa Bhakti, pengamat politik senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kepada [tempo.co] (https://m.tempo.co/read/news/2016/07/27/078790807/ahok-maju-lewat-partai-teman-ahok-kami-tak-mengekang). "Kalau kita lihat hasil survei Populi Institute bahwa Ahok akan menang melalui jalur independen maupun parpol, tampaknya bagi pendukungnya yang penting Ahok bisa maju kembali dan memenangi pilkada DKI 2017," ujar Ikrar. Selain itu, **Ikrar memprediksi PDI-P juga akan mendukung Ahok nantinya karena mereka tidak punya pilihan lain**. "Bagi PDIP, kalau gagal menjadi pendukung Ahok, partai ini tentunya akan kehilangan pemilih pada pemilu serentak 2019," tambahnya.
5. Lalu, siapa yang jadi wakilnya Ahok nanti? Pasti orang partai nih. Ya kan?
**Sejauh ini, belum ada keputusan resmi** apakah Ahok akan tetap maju bersama Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) DKI Jakarta, Heru Budi Hartono, sebagai wakilnya. Walaupun begitu, Golkar sebagai salah satu partai pendukung Ahok menyatakan akan menyerahkan keputusan ini kepada Ahok. Kepada [beritasatu.com] (http://www.beritasatu.com/nasional/376713-yoris-pastikan-ahok-maju-lewat-jalur-parpol.html) Yoris Raweyai, Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) **Partai Golkar menyatakan siap mendukung siapa saja yang dipilih Ahok**. Selain itu Ikrar Nusa Bhakti, pengamat politik senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menyatakan bahwa tidak masalah apakah Ahok dipasangkan dengan Heru atau Djarot. Dirinya menjelaskan kepada [tempo.co] (https://m.tempo.co/read/news/2016/07/27/078790807/ahok-maju-lewat-partai-teman-ahok-kami-tak-mengekang) bahwa berdasarkan survey Populi Institue, bagi pemilih "aktor paling penting adalah Ahok, pendamping hanya pelengkap."
6. Terus pendapat orang-orang seperti apa?
Reaksi yang diberikan cukup beragam. Tagar yang bernuansa mendukung Ahok seperti #TetapAhok bermunculan di Twitter, begitupun yang menolak seperti tagar #BalikinKTPGue.
Beberapa komentar yang menolak diantaranya
Image via twitter
Image via twitter
Image via twitter
Sementara yang lain tetap mendukung Ahok diantaranya
Image via twitter
Image via twitter/addiems
Image via twitter

