Mencoba Pahami Latar Belakang Dan Makna Dibalik Perjuangan Para Kartini Kendeng
"Kenapa hanya perempuan yang ada di garda terdepan?"
Cover image via klimg.comAkhir pekan lalu masyarakat sempat dikagetkan dengan pemberitaan yang mengutip komentar Dian Sastro tentang aksi cor kaki para ['Kartini Kendeng'] (http://says.com/id/news/kronologi-aksi-cor-kaki-oleh-para-kartini-kendeng-yang-menolak-pembangunan-pabrik-semen) di depan istana negara, Jakarta pada pekan lalu
*"Saya melihat fenomena bicara perempuan itu, ada tanda tanya besar. Apakah polemik itu terlalu politis bagi laki-laki. Kenapa yang bicara malah perempuan, saya enggak tahu,"*, ujar [Dian] (http://regional.kompas.com/read/2016/04/16/16452231/Terkait.Aksi.Kartini.Kendeng.Ini.Kata.Dian.Sastro#)
**Namun ternyata terdapat kesalahan pengutipan yang kemudian diklarifikasi Dian keesokan harinya melalui surat kepada media yang memberitakan.** Dia menyayangkan adanya kesalahan tersebut yang membuat dirinya terkesan mendiskreditkan apa yang diperjuangkan para Kartini Kendeng tersebut; bertolak belakang dengan apa yang selama ini telah menjadi prinsipnya sebagai pro kesetaraan gender.
Berikut kutipan klarifikasi tentang apa yang sebenarnya Dian Sastro katakan kala itu
Kutipan klarifikasi di atas mengandung beberapa pertanyaan dan keingintahuan Dian terkait perjuangan para Kartini Kendeng yang berada di garda depan dalam kasus ini. Sangat tidak menutup kemungkinan, pertanyaan berikut ini bukan hanya milik Dian, namun juga masih banyak di antara kita.
**1. Apa latar belakang perjuangan dibalik aksi protes para Kartini Kendeng? Seserius apa masalah ini?**
**2. Apakah kita perlu prihatin dengan keputusan para Kartini Kendeng melakukan aksi protes sedemikian rupa?**
**3. Mengapa *hanya* perempuan yang melakukan aksi?**
Awal mula permasalahan ketika wacana pembangunan pabrik semen mulai terdengar dan meresahkan warga
Sebuah film dokumenter karya [WatchDog Image] (https://www.youtube.com/watch?v=1fJuJ28WZ_Q) meringkas awal mula perlawanan masyarakat petani di wilayah pegunungan Karst Kendeng Utara terhadap pembangunan pabrik semen.
**2006**, PT Semen Gresik akan membangun pabrik di Kecamatan Sukolilo, Pati, Jawa Tengah. Warga Samin yang berada di kawasan tersebut menolak karena hal itu dianggap mengancam pertanian dan mata air.
**2009**, warga memenangi gugatan di PTUN (Pengadilan Tata Usaha Negara) hingga Mahkamah Agung. Pada tahun yang sama juga, PT Semen Gresik Indonesia mundur dari Pati dan pindah ke Kecamatan Gunem, Kabupaten Rembang.
**2010**, Grup Indocement masuk Pati dengan rencana pabrik di Kecamatan Kayen dan Tambakromo.
Sebagian besar masyarakat setempat khususnya pengikut Samin serta para petani di wilayah pegunungan karst Kendeng melanjutkan perjuangan menentang keberadaan pabrik Semen yang bertolak belakang dari visi mereka untuk menjaga kelestarian alam yang berkelanjutan.
Image via Youtube/SaminVsSemen
PT Semen Indonesia berhasil masuk Rembang dan mulai mendirikan pada 17 Juni 2014
Sehari sebelumnya, 16 Juni 2014, warga mulai bereaksi dan memblokade akses menuju lokasi pembangunan. Hari itu bertepatan dengan peletakkan batu pertama pabrik PT Semen Indonesia di sana.
Sejak saat itu pula, puluhan petani perempuan Kendeng mendirikan tenda di kawasan yang menjadi akses alat-alat berat industri mulai masuk; kawasan yang ditandai PT Semen Indonesia dengan tulisan *"di sini akan didirikan pabrik semen".*
Image via Youtube/SaminVSSemen
Image via Youtube/SaminVsSemen
Tiga sudut pandang yang perlu diketahui bersama
**Pakar lingkungan**
Dikutip dari [Tempo] (https://m.tempo.co/read/news/2015/09/18/078701841/kenapa-pabrik-semen-di-rembang-menuai-kontroversi), mantan Kepala Badan Geologi Surono mengatakan kawasan yang bakal menjadi lokasi penambangan merupakan Cekungan Air Tanah (CAT) merupakan daerah resapan, aliran, dan pelepasan air tanah. Kawasan tersebut merupakan penyimpan air tanah yang ikut menyuplai kebutuhan air di Pegunungan Kendeng Utara dan sekitarnya.
**Pabrik Semen**
Sudah dilakukan studi kelayakan yang menunjukkan bahwa karst yang terkandung di lokasi tambang berjenis karst biasa dan tidak ada penanda bahwa kawasan karst tersebut terlindungi. Melalui [Tempo] (http://bisnis.tempo.co/read/news/2015/07/24/092686333/samin-tolak-semen-ini-strategi-semen-indonesia), pihak PT Semen Indonesia mengatakan bahwa justru kawasan tambang tersebut adalah kawasan kurang subur dan nantinya akan membantu aktifitas pertanian warga dengan penyediaan saluran irigasi dan perluasan kawasan mata air.
**Petani**
Mereka sudah merasa cukup dengan keadaan yang ada sebelumnya. Seperti disebutkan sebelumnya, ajaran Samin memiliki cukup banyak pengaruh terhadap cara berpikir masyarakat setempat yang mayoritas petani. Salah satu prinsip yang dipegang teguh masyarakat ini adalah pelestarian lingkungan dan bagaimana mereka anti eksploitasi alam secara berlebihan.
Seberapa serius permasalahan ini?
Masyarakat tersebut sudah berpuluh-puluh tahun memanfaatkan alam seperlunya untuk memenuhi kebutuhan pribadi termasuk bertani. Kelestarian alam yang utuh sudah menjadi bagian hidup mereka. Pemikiran 'sebuah perubahan besar akan terjadi' pun tidak dapat dihindari untuk terlintas di benak mereka yang kemudian beralih menjadi sebuah 'keresahan'.
Sejauh ini keresahan mulai terjawab dengan beberapa ketidaknyamanan berikut ini
**1. Sulitnya akses air bersih terutama pada musim kemarau.** Dalam referensi yang sama yakni film dokumenter karya Watchdoc, seorang Ibu mengungkap *expense* yang harus dikeluarkan setiap bulannya menjadi jauh lebih mahal karena kini mereka tidak lagi dapat memperoleh air secara gratis. Mereka harus membelinya terutama ketika kemarau datang.
**2. Terganggunya harmoni atas pecahnya mereka menjadi mereka yang pro dengan yang kontra; menimbulkan ketegangan yang tidak dapat dihindari.**
Dalam referensi yang sama yakni film dokumenter karya Watchdoc, ditampilkan contoh 'perubahan' yang dimaksud; wilayah Tuban, Jawa Timur, setelah kurang lebih 20 tahun pabrik semen beroperasi di sana.
Image via Youtube/SaminVsSemen
Film juga memuat testimoni seorang warga yang menyampaikan pendapatnya bahwa pembangunan pabrik Semen di pulau Jawa bukan keputusan yang bijak. Masih banyak lahan pegunungan karst lainnya yang tidak dipadati penduduk, ujarnya. Jika salah satu alasan dibalik pendirian pabrik semen tersebut adalah untuk lebih menyejahterakan masyarakat petani setempat, hal itu tidak sejalan dengan sebagian besar masyarakat petani di sana yang sudah merasa cukup dengan apa yang sebelumnya mereka punya.
Jadi seberapa serius permasalahan ini? Anda bisa simpulkan sendiri.
Image via Youtube/ SaminVsSemen
Apakah kita perlu prihatin dengan keputusan para Kartini Kendeng melakukan unjuk rasa yang dianggap dapat membahayakan mereka sendiri?
Sudah hampir dua tahun sebagian dari warga khususnya para perempuan petani mendirikan dan berada di 'tenda tolak semen'. Mereka juga melakukan audiensi dengan pemerintah setempat dan proses pengajuan harus terhenti di pengadilan. April 2015 Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang, memutuskan untuk tidak menerima gugatan warga Rembang terkait pembangunan pabrik.
Hal tersebut melatarbelakangi aksi sejumlah Kartini Kendeng yang membunyikan lesung dengan alu sebagai tanda bahaya akan datangnya bencana yang diakibatkan kehadiran pabrik semen di wilayah mereka. Hal tersebut diikuti surat yang ditujukan pada pihak istana berisi permintaan mereka untuk berdisksusi langsung dengan presiden Joko Widodo.
Belum mendapatkan respon yang diharapkan, perjuangan berlanjut hingga apa yang terjadi pada pekan lalu ketika aksi cor kaki mereka lakukan.
Mengiringi dukungan dan simpati yang ada, berbagai kritikan negatif juga terus berdatangan. Banyak yang menyayangkan aksi Kartini Kendeng ini yang dinilai membahayakan diri mereka sendiri. *Mungkin* mereka yang berpendapat demikian mengira bahwa para Kartini Kendeng serta warga lain yang mereka perjuangkan dapat dengan mudahnya menyediakan sejumlah uang untuk menggunakan jasa pengacara atau berpendapat dengan segelintir bahasa yang dapat memenangkan perdebatan dengan pihak elite yang bersangkutan (?)
Selain itu para Kartini Kendeng sendiri mengaku sadar akan bahaya dari aksi mereka. Namun hal tersebut kalah dengan kekhawatiran mereka terhadap keberlangsungan hidup mereka dan anak cucu mereka kedepannya.
Mengapa hanya perempuan yang melakukan aksi memperjuangkan jalan keluar dari permasalahan ini?
Masih ada beberapa kemungkinan jawaban lain atas pertanyaan yang mungkin sebagian orang, termasuk penulis, anggap sejak awal tidak perlu dipertanyakan.
Bukankah sosok dan apa yang diperjuangkan Kartini seharusnya menjadi salah satu tonggak yang merefleksikan bahwa perempuan punya kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mewujudkan sebuah perubahan?
Pada akhirnya, **mengapa *hanya* perempuan yang melakukan aksi memperjuangkan jalan keluar dari permasalahan ini?**
*Ya karena mereka bisa. Ada yang salah?*
Pernyataan tersebut juga tidak kalah sering bermunculan bagi sebagian masyarakat. Mari telusuri bersama.
**1. Menghindari kekekerasan.**
Seorang *netizen* dalam blog pribadinya sempat menyampaikan salah satu alasan, yang ia juga akui terkesan 'seksis', bahwa perempuan mengambil peran besar dalam kasus ini karena masyarakat tidak menginginkan adanya kekerasan dalam perjuangan mereka mempertahankan lahan. Anggapannya, jika laki-laki yang turun tangan, emosi akan lebih sulit terkontrol dan berujung kekerasan.
Alasan serupa yang dapat ditemui adalah bagaimana para sosok Kartini Kendeng ini merupakan simbol perlawanan langsung dari dapur para petani yang mengandalkan keutuhan alam di wilayah Kendeng.
**2. Hubungan genetis dengan Kartini.**
Dikutip dari [mongabay.com] (http://www.mongabay.co.id/2015/04/25/inilah-cara-perempuan-kendeng-peringati-hari-kartini/), aktivis perempuan dan pimpinan redaksi Jurnal Perempuan, Dewi Candraningrum mengatakan ada hubungan genetis Kartini dengan perempuan Kendeng yaitu kepemimpinan perempuan dan kepekaan yang dalam terhadap keadilan.
**3. Simbol kekecewaan.**
Komisioner Komnas HAM, Sandra Moniagi, yang hadir menjenguk para Kartini Rembang di depan istana negara mengatakan bahwa aksi ini bisa juga dikatakan sebagi simbol dari rasa frustasi yang sudah berjuang lewat berbagai tataran tanpa kekerasan tapi belum mendapat respons yang semestinya dari negara.
*"Ibu-ibu ini sampai meninggalkan anaknya, meninggalkan rumahnya, meninggalkan sawahnya demi memperjuangkan keadilan. Menurut saya ini simbol masyarakat yang sudah begitu kesal, kecewa dengan kelambatan respons. Ini sudah bentuk self torture (menyakiti diri sendiri) berarti memang ada hal yang sudah sangat serius. Saya berharap semua pihak melihat ini dengan hati dan pikiran,"* himbau [Sandra Moniaga.] (http://gaung.aman.or.id/2016/04/14/keteguhan-hati-sembilan-perempua-samin-vs-semen-n-samin-vs-semen/)
Karenanya para Kartini mungkin akan mengamini setiap anggapan miring bahwa apa yang dilakukan Kartini Kendeng adalah mencari perhatian. Karena memang itu yang mereka targetkan; 'perhatian'. Perlu dicatat pula 'cari perhatian' yang mereka lakukan tidak menimbulkan kemacetan di jalan atau hal lain yang merugikan orang lain. Semua rentetan aksi yang dilakukan murni melibatkan hingga 'membahayakan' *hanya* diri mereka masing-masing.
Image via Rappler Indonesia
Selamat hari Kartini, perempuan Indonesia!
Image via Youtube/SaminVsSemen

