Tahu Bahasa Indonesia Lebih Dalam Bersama Ivan Lanin Melalui #tanyabahasa

Banyak fakta yang selama ini kita nggak tahu sebelumnya.

Enlarge text
Cover ImageCover image via Youtube/Badan Bahasa
Logo

Hari ini sungguh istimewa. Indonesia memperingati 88 tahun momen Sumpah Pemuda.

Sumpah Pemuda adalah momen manifestasi identitas kebangsaan paling solid yang pernah dilakukan para pendahulu kita, bahkan jauh sebelum kemerdekaan.

Selain mengaku bertumpah darah satu, dan berbangsa satu, [naskah Sumpah Pemuda] (https://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda) yang ditulis oleh **Moehammad Yamin** ini juga menyatakan bahwa bangsa kita punya satu bahasa; **bahasa Indonesia**.

Di kesempatan Sumpah Pemudalah bahasa Indonesia lahir.

Tepat hari ini pula, [**Twitter Indonesia**] (https://twitter.com/TwitterID) pada sesi regulernya, **#CreatorsWeek**, mengajak ahli dan pengamat bahasa Indonesia, **Ivan Lanin** untuk berinteraksi melalui [akunnya] (https://twitter.com/ivanlanin), menjawab pertanyaan-pertanyaan pengguna Twitter soal bahasa Indonesia di sesi **#tanyabahasa**.

Aulia Masna dan Lolita Lavietha dari #CreatorsWeek bersama dengan Ivan Lanin di #BlueRoomID.

Image via Twitter/ivanlanin

#tanyabahasa memberikan banyak pengetahuan baru soal bahasa Indonesia.

Dalam sesi yang diadakan di [#BlueRoomID] (https://twitter.com/hashtag/BlueRoomID?src=hash) ini, Ivan memaparkan berbagai pengetahuan yang mungkin saja kamu belum mengerti terkait bahasa kita.

Berikut beberapa pertanyaan dan jawaban soal bahasa Indonesia (dan bahasa *di* Indonesia) yang [SAYS Indonesia] (http://says.com/id) kompilasikan.

Ada sekitar 760-an bahasa daerah di Indonesia. Sekitar 50%-nya ada di Papua.

Indonesia memiliki banyak suku bangsa. Dari 760-an bahasa daerah di Indonesia, 50%-nya ada di Papua. Kebayang 'kan seberapa kaya bahasa di Indonesia?

Sayangnya, sebanyak 15 bahasa daerah di wilayah Indonesia Timur dinyatakan punah berdasarkan data [Badan Bahasa] (http://www.beritasatu.com/pendidikan/386217-15-bahasa-daerah-di-indonesia-punah.html).

Kata 'non-' dan 'pasca-' mesti ditulis serangkai/digabung dengan kata yang mengikutinya.

Karena kedua kata tersebut masuk ke dalam bentuk terikat. Selain itu, 'pra-' dan 'antar-' juga terikat. Bentuk terikat jumlahnya ada sekitar seratus lebih dalam bahasa Indonesia. Secara kaidah, bentuk terikat mesti ditulis serangkai.

Kamu bisa melihat contohnya [di sini] (http://www.indonesia.co.jp/bataone/ruangbahasa30.html).

Peninju dan petinju benar secara bahasa, namun memiliki arti yang berbeda.

Seperti *penyulap* dan *pesulap*, *peninju* dan *petinju* punya arti berbeda. *Peninju* atau *penyulap* adalah orang yang *meninju* dan *menyulap*. Sementara *pesulap* dan *petinju* berarti orang yang *bersulap* dan orang yang *bertinju*.

Bahasa daerah punya emosi lebih tinggi dibanding bahasa Indonesia.

Maksudnya, bahasa daerah dianggap lebih ekspresif dalam mengungkapkan emosi. Sementara bahasa Indonesia belum tentu seperti itu. Menurut Ivan, bahasa Indonesia adalah bahasa 'buatan', kemudian ragam formal/resmi dan informal/tak resmi sangat berbeda jauh.

Poin menarik soal *emosi* di bahasa daerah bisa kamu baca [di sini] (https://books.google.com.my/books?id=L25rzORE1OcC&pg=PA140&lpg=PA140&dq=bahasa+daerah+emosi&source=bl&ots=xoWG_zrJXu&sig=h3pl1iOVq6bEC2aDbkgvUl6-HR4&hl=en&sa=X&redir_esc=y#v=onepage&q=bahasa%20daerah%20emosi&f=false).

Ada wacana kata tahu dihilangkan h-nya agar bisa dibedakan antara tahu yang berarti kenal/ingat dengan nama makanan. Tapi…

Kita sudah terbiasa bahwa ada kata yang punya berbagai makna, jadi tinggal bagaimana kita memahami konteksnya saja. Jadi untuk apa dihilangkan?

Penulisan '$' dan USD, mana yang benar?

Penggunaan *USD*, *SGD*, misalnya, baru digunakan belakangan ini. Namun, secara tradisional, simbol *$* yang digunakan. Jadi, jika ingin sesuai kaidah, penggunaan *$* lebih tepat.

Standarisasi adalah bentuk serapan yang salah.

Jika kamu ingin menyerap kata asing, mesti utuh biasanya. Jadi bukan *standarisasi*, tapi… ***standardisasi***, karena bahasa Inggrisnya adalah *standardization*. Huruf *d* tetap dipertahankan.

Kata dan/atau imbuhan di ada yang dipisah dan digabung.

Bentuk *di* yang disambung dengan kata lainnya adalah kata kerja pasif. Sementara, *di* yang dipisah menunjukkan keterangan tempat. Ivan memberikan kiat paling mudah untuk mengetes kata tersebut, *disana* jika jadi *mesana* tidak ada artinya, sehingga *di* pada *di sana* mesti dipisah penulisannya.

Selalu ada pengecualian untuk kata asing yang diadopsi jadi bahasa Indonesia.

Kata-kata bahasa Inggris yang berakhiran *-ty* misalnya, diubah jadi *-tas*. Seperti *activity* jadi *aktivitas*, *celebrity* jadi *selebritas*. Lalu mengapa banyak yang menggunakan *selebriti*? Ini hanya sekadar kebiasaan masyarakat. Sementara, bentuk bakunya adalah *selebritas*.

Cara singkat jago berbahasa ala Ivan Lanin.

Di sesi #tanyabahasa, pengembang [Kateglo] (http://www.kateglo.com/) ini juga memberi kiat mudah agar kamu bisa jago berbahasa.

Tak sulit, kamu cuma mesti rajin ngomong saja dengan bahasa yang sedang kamu pelajari. Menulis saja tidak cukup, karena menurutnya, kita tidak bisa berpikir dalam kerangka bahasa tersebut.

Masih penasaran soal bahasa Indonesia?

Kamu bisa ikuti akun Twitter-nya di [@ivanlanin] (https://twitter.com/ivanlanin) dan bertanya soal bahasa di sana.

Pantau terus [Facebook] (http://bit.ly/saysidfb), [Twitter] (http://bit.ly/saysidtwitter) dan [Subscribe] (http://bit.ly/saysidsubscribe) SAYS Indonesia untuk konten terhangat lainnya.

Masih belum mengerti bahasa Indonesia, mending simak video ini.

Orang ini jago bikin joke pakai bahasa Indonesia.

Bahasa Indonesia dan bahasa Malaysia tuh serupa tapi tak sama.